04
Aug
08

Ngebatik!

Manusia tak bisa lepas dari kebudayaan. Karena dialah yang menghasilkan kebudayaan tersebut. Apapun yang manusia perbuat, itu akan menghasilkan sebuah budaya baru. Setiap waktu selalu tercipta budaya yang menyertai perjalanan manusia. Lewat budaya manusia menjalani peradabannya. Kebudayaan yang ada, dapat menjadi inspirasi bagi manusia untuk menciptakan sesuatu. Indonesia merupakan salah satu bagian dari kebudayaan tersebut. Dengan kekayaan alam yang melimpah, beribu suku bangsa didalammya, membuat Indonesia memiliki kebudayaan yang tak ternilai harganya. Lihatlah betapa kayanya negeri ini. Namun apalah artinya jika semua kekayaan itu tidak dilestarikan oleh generasi penerusnya. Mungkin nenek moyang kita terdahulu akan bersedih melihat hal ini.

Budaya merupakan hasil karya manusia yang memiliki nilai seni tinggi. Indonesia punya banyak budaya yang menjadi ciri khas dari bumi kita ini. Salah satu yang menjadi icon bagi budaya Indonesia adalah batik. Siapa yang tidak mengenal batik. Kerajinan karya bernilai seni tinggi ini telah menjadi bagian dari budaya Indonesia khususnya suku Jawa sejak lama. Batik (atau kata ’batik’) sendiri berasal dari bahasa jawa ”amba” yang berarti menulis dan ‘’titik”. Batik merupakan kain dengan corak yang unik dan khas, dimana corak tersebut dihasilkan dari bahan ”malam” yang diaplikasikan diatas kain.

Pada awalnya, biasanya pekerjaan membatik dilakukan oleh perempuan-perempuan jawa sebagai mata pencaharian mereka. Sehingga membatik menjadi pekerjaan eksklusif perempuan pada masa itu. Namun hal itu perlahan memudar setelah sitemukannya batik cap. Pekerjaan batik memang banyak dilakukan oleh perempuan, karena membatik memerlukan kesabaran dan kecermatan yang tinggi. Untuk satu kain batik tulis yang berkualitas baik, diperlukan waktu hingga 2-3 bulan untuk satu lembarnya.

Secara historis batik berasal dari zaman nenek moyang yang mulai dikenal pada abad ke 17. Pada saat itu kerajian batik ditulis dan dilukis pada daun lontar. Corak yang dilukiskan pada waktu itu hanya berupa gambar binatang dan tumbuhan saja. Namun seiring dengan perkembangan, corak yang dihasilkan kini semakin beragam. Motif yang paling sering dijumpai adalah motif abstrak.

Pembatikan di Indonesia berhubungan dengan kerajaan Majapahit dan kerajaan-kerajaan sesudahnya. Menurut beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa kerajaan Mataram, selanjutnya pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta. Saat itu batik merupakan kerajinan kain untuk pakaian yang dikerjakan di dalam keraton. Dan, hanya digunakan untuk kalangan keluarga keraton, kerajaan, dan para pengikutnya saja. Karena para pengikut keraton banyak yang tinggal diluar keraton, maka kerajian ini pun dibawa keluar keraton dan dikerjakan di daerah masing-masing. Selanjutnya kerajinan batik ini banyak ditiru oleh rakyat biasa dan kemudian lambat laun batik menjadi pakaian yang digemari.

Batik kemudian terus berkembang mulai dari kerajaan majapahit hingga kerajaan berikutnya. Kesenian batik mulai meluas dan menjadi milik rakyat Indonesia, khususnya rakyat jawa setelah akhir abad ke 18 atau awal abad 19. Semua batik yang dihasilkan adalah batik tulis sampai awal abad 20, dan dikenal batik cap setelah usai Perang Dunia 1 atau sekitar tahun 1920.

Daerah penghasil batik di Indonesia

Daerah-daerah yang dikenal sebagai penghasil batik diI Indonesia terpusat di daerah jawa. Pekalongan merupakan tempat yang sangat terkenal dengan batiknya. Sehingga pekalongan dikenal sebagai Kota Batik. Meskipun tidak ada catatan resmi kapan batik mulai dikenal di Pekalongan, namun menurut perkiraan batik sudah ada di Pekalongan sekitar tahun 1800. Batik merupakan salah satu produk unggulan dari kota ini. Membatik sudah menjadi nafas kehidupan warga di sana. Di kota ini batik mengalami perkembangan pesat. Tak heran jika Pekalongan menjadi icon dari batik di Nusantara. Di kota ini juga terdapat Musium Batik pertama di Indonesia.

Selain Pekalongan, kota Solo dan Yogyakarta dikenal juga akan seni batiknya. Dari kerajaan-kerajaan Solo dan Yogyakarta pada abad ke 17, 18, dan 19 batik berkembang luas khususnya di Pulau Jawa. Solo terkenal dengan corak dan pola batik tradisionalnya. Pola batik Solo dikenal dengan nama Sidomukti dan Sidoluhur. Sedangkan Asal-usul pembatikan di daerah Yogyakarta dikenal semenjak kerajaan Mataram ke-I. Ke daerah Timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulung Agung. Selain itu juga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura.

Selain tiga daerah tersebut, batik pun dihasilkan dari daerah lain. Diantaranya Banyumas, Tegal, Purworwjo, Kebumen, Tasikmalaya, Ciamis, dan Cirebon. Setiap daerah memiliki corak tersendiri yang menjadi ciri khas masing-masing daerah.

Selama ini kita hanya mengetahui perkembangan batik di Pulau Jawa saja. Ternyata di luar Pulau Jawa, terjadi juga perkembangan batik. Misalnya di Sumatera Barat terutama di Padang. Daerah yang jauh dari pusat pembatikan di Pulau Jawa, tetapi di sini batik mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Sumatera Barat termasuk daerah konsumen batik sejak zaman sebelum perang dunia kesatu, terutama batik-batik produksi Pekalongan dan Solo serta Yogya. Di Sumatera Barat yang berkembang terlebih dahulu adalah industri tenun tangan yang terkenal “tenun Silungkang” dan “tenun plekat”. Pembatikan mulai berkembang di Padang setelah pendudukan Jepang, di mana sejak putusnya hubungan antara Sumatera dengan Jawa waktu pendudukan Jepang, maka persediaan-persediaan batik yang ada pada pedagang-pedagang batik sudah habis, dan konsumen perlu batik untuk pakaian sehari-hari mereka. Untuk itu maka pedagang-pedagang batik yang biasa hubungan dengan pulau Jawa mencari jalan untuk membuat batik sendiri.

Dengan hasil karya sendiri dan penelitian yang seksama, dari batik—batik yang dibuat di Jawa, maka ditirulah pembuatan pola-polanya. Warna dari batik Padang kebanyakan hitam, kuning dan merah ungu serta polanya Banyumasan, Indramayunan, Solo dan Yogya. Sekarang batik produksi Padang lebih maju lagi tetapi tetap masih jauh dari produksi-produksi dipulau Jawa ini.

Batik saat ini

Batik sekarang ini sedang menjadi trend. Dimana-mana kita dapat menjumpai orang-orang menggunakan baju bermotif batik. Dulu baju batik hanya digunakan oleh para orang tua saja. Karena batik masa itu dianggap sebagai sesuatu yang tradisional dan kolot. Biasanya batik digunakan sebagai pakaian bila kita akan menghadiri acara-acara resmi, undangan pernikahan, ataupun acara wisuda.

Batik menjadi barang yang eksklusif, karena hanya dipakai pada saat tertentu saja selain itu untuk batik dengan kualitas yang baik, harganya pun cukup mahal.

Namun lihatlah sekarang, kita dapat menjumpai orang menggunakan batik di mana saja. Di mal, kampus, ditempat nongkrong anak muda, di manapun. Dari mulai anak kecil sampai pada para anak gaul. Mereka tidak lagi malu menggunakan batik. Saat ini batik hadir dengan model yang sangat beragam, warnanya pun tak melulu berwarna coklat seperti yang selama ini kita kenal. Warna-warna cerah banyak digunakan. Para perancang busana pun berlomba-lomba menciptakan model-model cantik dan menarik dengan menggunakan batik. Terbukti bahwa batik, yang dianggap kolot dapat menjelma menjadi sesuatu yang indah.

Generasi muda yang menjadi penerus nilai-nilia budaya, akan dengan bangga menggunakan batik, karena ternyata baik pun sesuai dengan zaman mereka. Keadaan seperti itu akan membuat kekayaan budaya akan selalu terjaga dan lestari. Dan nenek moyang kita akan tersenyum bahagia melihat penerusnya menjaga apa yang telah mereka wariskan.(Winda Natalia)


0 Responses to “Ngebatik!”



  1. No Comments Yet

Leave a Reply